Bertahan di Tengah Gejolak, Bersiap di Tengah Seleksi Pasar: Kunjungan Mendalam ke Pasar Indonesia
Di pergantian musim panas ke musim gugur, dari akhir Agustus hingga awal September, tim perusahaan menyelesaikan kunjungan mendalam ke pasar Indonesia. Dari Jakarta ke Bandung, dan dari Jawa Tengah ke Tangerang, tim berdiskusi mendalam dengan pelanggan akhir, mitra, dan lembaga resmi seputar biosida, anti-jamur, bahan pembantu tekstil, pigmen, cat dan tinta, serta sertifikasi HALAL. Ini perjalanan yang berangkat dengan pertanyaan dan pulang dengan penilaian. Pasar Indonesia penuh tantangan, tetapi peluangnya tidak hilang: ia hanya muncul dengan cara yang berbeda.
Indonesia: tatanan lama mundur, peluang baru tumbuh di celah-celahnya
Lingkungan pasar Indonesia saat ini tidak mudah. Gejolak politik, tantangan tata kelola, dan masalah korupsi saling berkelindan, dan iklim usaha semakin kompleks. Sejak gelombang kebangkrutan perusahaan tekstil besar pada 2023, perdagangan ekspor terus tertekan. Sebagian merek mode cepat internasional memindahkan pesanan ke Bangladesh, Mesir, dan negara lain, sementara industri tekstil Indonesia, yang pelakunya berskala kecil, teknologinya tertinggal, dan sangat bergantung pada kapas impor, perlahan kalah dalam persaingan ketat. Di sisi kebijakan, belanja sosial yang tidak mendesak menggeser dana pembangunan infrastruktur, sehingga permintaan bahan kimia konstruksi dan cat pun ikut terseret.
Namun kunjungan ini juga memperlihatkan sisi lain. Di fase akhir pasar yang matang, perusahaan besar yang sudah tua tersingkir secara alami karena laba merosot dan modal ditarik, sementara di antara perusahaan kecil dan menengah yang ramping dan berakar di pasar lokal akan lahir perusahaan besar berikutnya. Kami harus menangkap peluang ini dan tumbuh bersama perusahaan lokal yang berpotensi: dengan begitulah kami bisa berakar di pasar dan menunggu situasi berubah.
Biosida dan anti-jamur: dari menjual produk ke menjual solusi dan layanan
Biosida dan anti-jamur menjadi salah satu fokus utama perjalanan ini. Tim mengunjungi sejumlah perusahaan cat, tinta, emulsi, dan biosida, dan menemukan bahwa jamur di iklim lembap adalah keluhan umum. Kebutuhan pelanggan akan produk bebas formaldehida dan nol VOC, pengawet dalam kaleng, serta anti-jamur untuk dinding dalam dan luar itu nyata. Namun sekadar menjual bahan baku tidak lagi cukup: pelanggan lebih mementingkan dukungan formulasi, pengujian mutu, uji tantang biologis, dan kemampuan layanan jangka panjang.
Di sebuah perusahaan di Jakarta, tim melihat langsung kebutuhan nyata akan anti-jamur dan biosida. Pelanggan peduli pada harga bahan baku, tetapi lebih peduli pada stabilitas formulasi, kemampuan pengujian, dan layanan berkelanjutan. Berawal dari pengujian sampel, kedua pihak kini menjajaki model keagenan lokal dan layanan bersama. Perusahaan seperti ini belum tentu yang terbesar, tetapi mengambil keputusan dengan luwes dan berakar kuat di daerahnya: persis mitra yang kami cari. Ke depan, tim akan terus mendorong jalur kerja sama "produk + formulasi + layanan + keagenan", mengikat kemampuan teknis dengan jalur distribusi lokal.

HALAL dan perusahaan Jepang: di balik ambang ada tiket masuk
HALAL adalah persoalan kebijakan yang harus dipahami tuntas dalam perjalanan ini. Tim mengunjungi lembaga sertifikasi HALAL Indonesia dan memetakan proses sertifikasi, persyaratan label, dan dampaknya pada rantai pasok. Penilaian kuncinya: pasar secara umum masih bisa memakai pernyataan, tetapi di bawah ketentuan Majelis Ulama Indonesia (MUI), perusahaan besar yang melayani konsumen Muslim lebih memilih mematuhi regulasi HALAL dan menerapkan syarat keras untuk sertifikasi bahan baku. Dengan kata lain, HALAL bukan keharusan bagi semua pelanggan, tetapi menjadi tiket masuk ke sebagian rantai pasok kelas atas.
Di jalur perusahaan Jepang, tim berdiskusi mendalam dengan sebuah pemasok bahan pembantu milik Jepang. Perusahaan itu punya pengaruh besar di pasar Indonesia, menerapkan syarat HALAL yang ketat, dan terhubung dengan sekitar 20 perusahaan pencelupan dan pencetakan Jepang di Indonesia. Lewat jalur perusahaan Jepang lokal seperti ini, Hongda akan langsung masuk ke rantai pasok milik Jepang dan terhubung dengan pelanggan besar yang berkualitas.

Bahan pembantu tekstil dan pasta warna: bahan baku bersaing di harga, formulasi bersaing di layanan
Di Jawa Tengah dan Bandung, tim mengunjungi sejumlah perusahaan tekstil, pencetakan, masterbatch, dan tinta. Umpan balik pelanggan sangat jelas: harga bukan satu-satunya faktor, kinerja dan layanan lebih penting. Pengental tidak boleh mengubah pegangan kain, dispersan harus mengalir baik dan stabil warnanya, pelembut dan serpih pelembut butuh pasokan stabil dan dukungan pengenceran lokal. Karena tenggat pesanan pendek, pelanggan lebih memilih membeli secara lokal, dan ini menuntut lebih dari stok lokal, kecepatan tanggap, dan kerja sama pengenceran kami.
Tim juga membahas dengan mitra lokal model pengenceran dan penjualan eceran untuk pelanggan kecil dan menengah: perusahaan menyediakan formulasi konsentrasi tinggi, pelatihan teknis, dan dukungan pengendalian mutu, sedangkan mitra lokal menyediakan tenaga, peralatan, dan tempat, lalu menjual produk yang sudah diencerkan. Ini sekaligus model penjualan dan jaringan layanan lokal. Pada saat yang sama, sebagian pesaing internasional sudah membangun kemampuan pengenceran dan distribusi lokal di Indonesia, dan persaingan bergerak maju. Kami harus membereskan layanan teknis, pengendalian biaya, dan efisiensi jalur distribusi sekaligus.

Pengendalian risiko dan perluasan jalur: menempatkan kredit dan sumber daya pada yang terpenting
Perjalanan ini juga membuat kami melihat lebih jelas bahwa pasar Indonesia tidak bisa disamaratakan. Untuk pelanggan yang kesulitan keuangan atau terlambat membayar, kredit harus diperketat dan penjualan kredit dihindari; prioritaskan pengembangan pelanggan yang relatif sehat seperti Tongkai dan Toray; hindari daerah berisiko tinggi. Perusahaan milik Jepang secara umum relatif sehat dalam operasi dan pembayaran, dan layak dipertimbangkan sebagai arah utama tahap berikutnya.
Penutup: tumbuh bersama perusahaan berpotensi, menunggu situasi berubah
Pasar Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar. Gejolak politik, masalah tata kelola dan korupsi, ekspor yang lesu, dan seleksi di industri tekstil membuat operasi jangka pendek penuh ketidakpastian. Namun kunjungan ini juga mengajarkan bahwa fase akhir pasar yang matang sering kali menjadi masa inkubasi kekuatan baru. Perusahaan besar lama yang tak lagi menghasilkan uang ditinggalkan modal dan tersingkir secara alami; perusahaan kecil dan menengah yang ramping dan berakar di pasar lokal akan tumbuh perlahan menjadi generasi perusahaan besar berikutnya.
Di pasar luar negeri, pertanyaannya bukan "ada peluang atau tidak", melainkan "bagaimana merebutnya". Untuk Indonesia, satu resep tidak bisa dipakai untuk semua. Dengan model kerja sama yang luwes, komunikasi mendalam dengan pelanggan, layanan teknis yang kokoh, dan pengelolaan kredit yang ketat, kami akan menggandeng perusahaan lokal yang berpotensi dan tumbuh bersama mereka. Hanya dengan begitu kami bisa berakar di pasar dan menunggu situasi berubah.
